Sikka — Sebuah rumah warga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dilalap api pada malam hari, memicu kepanikan di lingkungan sekitar. Kebakaran tersebut diduga dipicu oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, meski kerugian materiil dilaporkan cukup besar.
Api terlihat cepat membesar sebelum warga bersama aparat setempat berupaya memadamkan dan mencegah rambatan ke rumah lain. Dalam situasi darurat, solidaritas warga menjadi penentu—air seadanya, teriakan peringatan, dan koordinasi spontan menyelamatkan lingkungan dari dampak yang lebih luas.
Kepanikan Sesaat, Keselamatan Menjadi Prioritas
Sejumlah warga mengaku terkejut melihat api muncul dari rumah yang terbakar. Beberapa keluarga memilih keluar rumah untuk berjaga-jaga. Aparat dan relawan setempat kemudian memastikan area aman dan membantu pemilik rumah mengamankan barang yang tersisa.
Pihak berwenang menyatakan penyelidikan dilakukan untuk memastikan kronologi dan penyebab kebakaran. Proses ini menekankan kehati-hatian—mengumpulkan keterangan saksi dan bukti tanpa prasangka, demi kejelasan hukum dan rasa aman masyarakat.
Dimensi Keamanan Publik
Peristiwa ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan kebakaran di permukiman padat. Akses air, jalur evakuasi, dan komunikasi darurat menjadi faktor krusial. Pemerintah daerah mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, memastikan instalasi listrik aman, serta menyepakati mekanisme gotong royong saat keadaan darurat.
Di wilayah dengan keterbatasan sarana pemadam, pencegahan dan respons cepat warga adalah lapis pertama perlindungan keselamatan publik.
Hukum dan Kemanusiaan: Menjaga Keseimbangan
Jika dugaan keterlibatan ODGJ terbukti, penanganannya memerlukan pendekatan hukum yang manusiawi. Fokus tidak semata pada sanksi, melainkan perlindungan, perawatan, dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Prinsip praduga tak bersalah tetap dijunjung, sembari memastikan keselamatan lingkungan.
Pendekatan lintas sektor—kesehatan, sosial, dan keamanan—dibutuhkan untuk menilai kebutuhan medis, dukungan keluarga, serta langkah pengamanan yang proporsional.
Stigma Bukan Solusi
Tokoh masyarakat setempat mengingatkan agar warga tidak menstigma ODGJ. Stigma justru mempersempit akses bantuan dan meningkatkan risiko kejadian berulang. Edukasi, pendampingan, dan layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan adalah kunci pencegahan.
Kebakaran ini menjadi pengingat bahwa kesehatan jiwa adalah urusan bersama, bukan hanya keluarga inti.
Pemulihan dan Dukungan
Pasca-kejadian, warga bergotong royong membantu pemilik rumah—membersihkan puing, menyediakan kebutuhan darurat, dan dukungan moril. Pemerintah daerah diharapkan menyalurkan bantuan pemulihan serta memperkuat program layanan kesehatan jiwa dan mitigasi kebakaran di tingkat desa.
Pelajaran Bersama
Di balik api yang menghanguskan, tersisa pelajaran penting: keselamatan publik, kepastian hukum, dan kemanusiaan harus berjalan seiring. Ketika kejadian darurat terjadi, respons cepat menyelamatkan nyawa. Ketika dugaan melibatkan ODGJ, empati dan penanganan tepat melindungi semua pihak.
Warga Sikka malam itu selamat. Tugas berikutnya adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang—dengan pencegahan, perlindungan, dan kepedulian yang berkelanjutan.